Bolehkah daku marah?

Kata AI/ Chat GPT: Marah, secara ilmiah, adalah respon emosional yang kuat terhadap situasi yang dianggap sebagai ancaman, ketidakadilan, atau pelanggaran. Emosi ini melibatkan perubahan fisiologis dan psikologis, dipicu oleh sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) di otak, yang memicu respons “fight or flight“. selanjutnya, masih kata Chat GPT, marah adalah emosi yang normal dan sehat yang dialami setiap manusia.

Sebagai manusia, berarti aku boleh dong marah, karena kalau tidak, bisa jadi aku nggak normal atau nggak sehat secara mental. Sepanjang hidupku, rasanya banyak sekali kemarahan dalam diriku, masa kecil dan remajaku sepertinya didominasi rasa marah, sebab dunia kurasa tidak pernah adil padaku, ada banyak situasi dan peristiwa yang membuatku marah, marah kepada orang tua, keluarga, teman, orang nggak dikenal dan yang paling parah, aku sempat lama marah sama Tuhan.

Lalu di usia setua ini, apakah aku masih diliputi rasa marah ?, syukurnya aku sudah menemukan kesadaran bahwa tidak ada gunanya menjadi orang yang diliputi rasa marah atau berperilaku pemarah (bedakan ya antara diliputi rasa marah dengan menunjukkan rasa marah di perilaku keseharian), aku sudah mencoba belajar mengenali rasa marah, penyebabnya serta bagaimana menyalurkan kemarahan itu.

Tidak selalu berhasil, tapi setidaknya aku tidak lagi menjadi orang yang bitter alias pahit atau salty alias asin (entah darimana istilah – istilah itu datang) atau agresif, meledak – ledak, berteriak – teriak atau bahkan bertingkah destruktif. Aku sekarang sudah bisa mengidentifikasi kalau aku sedang marah lalu memvalidasi perasaan itu nyata, dan aku tidak menekannya atau menyangkalnya, yang Pe eR adalah menyalurkan rasa marah itu, banyak kali aku masih “terjerembab” pada perilaku “menyerang”, bukan pake senjata ya, tapi ke lebih bersungut – sungut, sumpah serapah atau menyampaikan kata – kata pedas kepada si sumber marah, atau sering juga aku withdraw (menghindari) sumber marah, aku cut off atau memutus kontak dengan orang yang menjadi sumber kemarahanku.

Nah kata AI/ Google lagi nih, sebenernya yang ideal itu adalah pengendalian marah yang bisa dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya adalah Perubahan Pola Pikir, Latihan Relaksasi,  Komunikasi yang Efektif, Menghindari Situasi yang Memicu (ini menjadi pembenaran akan sikapku yang suka cut off orang atau lingkungan yang bikin marah), Penyaluran Emosi dan Bantuan Profesional. buat lebih lengkapnya bisa dicari di mbah Google.

Salam Damai

Leave a comment