Catatan di penghujung tahun 2023

Dalam waktu lima hari ke depan, penanggalan tahun 2023 akan berakhir, diganti dengan kalender tahun 2024, saya sendirian tapi tidak kesepian, alih alih, pikiran saya ramai dengan pertanyaan, kenapa sebagian besar orang – orang terlihat heboh sekali, bermacet macetan mengisi liburan, membuat rencana rencana pesta, dan menulis resolusi – resolusi untuk nanti ketika angka tahun berganti.

Sebelumnya, saat saya masih percaya kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, sambil ikut – ikutan eforia untuk liburan dan berencana melewatkan malam tahun baru, saya juga seringkali dihantui perasaan seperti dalam adegan drama tentang kehilangan, tentang penyesalan atau tentang kekhawatiran karena menghadapi ketidak pastian. Untungnya semakin bertambah tua semakin menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia ini tergantung dari persepsi yang ada di kepala.

John Locke, seorang filsuf Inggris di ujung abad ke 17 mencetuskan pemikiran kalau apapun persepsi kita terhadap dunia (baca: kehidupan) semuanya adalah hasil dari mengalami kehidupan itu sendiri. Menghubungkan teori ini secara sederhana dengan situasi akhir tahun adalah bagaimana pengalaman hidup itu dapat mengajarkan sesuatu yang berbeda, pengalaman yang berbeda bisa membuat cara melihat dan merasa yang juga berbeda, termasuk pikiran dan perasaan yang timbul di hari hari ujung bulan Desember ini.

Bagi saya sekarang, pikiran dan perasaaan/ emosi akhir tahun ini semakin dipengaruhi oleh kesadaran bahwa pergantian kalender itu hanyalah kreatifitas/ kepandaian manusia, bisa bisanya manusia saja membuat penanda yang bisa ditangkap oleh indra, penanda yang berupa waktu seperti detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Padahal alam semesta ya berjalan begitu saja menurut hukum keteraturan dan ketidak-teraturannya. Siang, malam, hujan, panas terik pada tanggal 31 Desember ya mungkin sama saja dengan tanggal 30 November.

Menurut saya, kecerdasan manusia sebagai individu dan kelompok telah berhasil menciptakan keadaan abstrak (dalam bahasa kekinian sering disebut vibes) yang dirasakan banyak orang seolah sangat spesial dan harus dirayakan secara komunal dengan gegap gempita baik di ruang publik atau privat. Hampir semua orang dari rakyat jelata sampai orang – orang mahakaya akan berpesta di malam pergantian tahun yang entah kenapa jarang ada orang yang bertanya untuk apa.

Saya tidak sedang menentang perayaan atau pesta pergantian tahun, saya hanya ingin berceritera kalau pikiran dan perasaan saya saat ini sepertinya datar atau biasa saja, saya tidak punya rencana pesta malam tahun baru, pun tidak punya niat untuk membuat resolusi resolusi dan berjanji mengubah ini itu, saya hanya akan mencoba menjalani hidup sebagaimana adanya dan seharusnya. Arti dari kata seharusnya di sini adalah: saya akan berupaya menjalani hidup berdasarkan apa yang saya yakini sebagai versi terbaik bagi saya sendiri tanpa merugikan orang lain dan tidak menyebabkan konsekwensi sosial yang pada akhirnya membuat susah.

Yang paling penting adalah saya akan belajar berupaya lebih untuk mendengarkan insting/ tanda – tanda yang diberikan oleh tubuh dan pikiran saya.

Selamat Tahun Baru 2024

Leave a comment